Majalah Salam Indonesia

Usia bukan penghalang untuk Menebar Kebaikan

160

SALAM-INDONESIA.com – SEBENARNYA TIDAK ada kata terlambat dalam berbuat kebaikan. Menuntut ilmu misalnya, seperti peribahasa “Belajar di usia belia bagaikan mengukir di atas batu, sedangkan di usia tua bagai mengukir di atas air,” tapi itu sama tidak bisa di jadikan tolak ukur di usia tua untuk berkontribusi dalam kebaikan.

Tidak harus berusia muda ataupun tua, siapapun yang mampu dalam berbuat kebaikan, maka lakukanlah, karena kebaikan tidak merugikan siapapun, justru balasan dari kebaikan, akan berbuah keberkahan bagi siapapun yang melakukannya.

Banyak sekali contoh dalam sejarah yang menunjukkan beberapa orang baru mulai berbuat kebaikan ketika usianya sudah tidak lagi muda. Seperti: Musa bin Nushair, panglima yang ditugasi membebaskan Andalusia, pada waktu penaklukan Spanyol, usianya sudah 72 tahun; Yusuf bin Tasyfin panglima terkenal dari Daulah Murabithun, baru disiplin dengan agama Islam ketika usianya 46 tahun (Raghib As-Sirjani, Kaifa Tushbihu ‘Aliman, 202) Kedua pahlawan ini adalah contoh orang-orang brilian yang baru memulai kontribusi besar kebaikannya ketika sudah berusia tua.

Jauh sebelum itu, ada sosok panglima besar bernama Khalid bin Walid RA. yang baru masuk Islam ketika usianya 47 tahun. Rekannya, Amru bin Ash juga masuk Islam pada usia 57 tahun. Meski masuk Islam di usia yang tak lagi muda, namun gelora mereka adalah gelora para pemuda. Khalid bin Walid yang berjuluk Saifullah Maslul (Pedang Allah yang Terhunus), dalam setiap pertempuran tidak pernah mengalami kekalahan, dan bisa membebaskan Persia dan Negeri Syam di usianya yang semakin senja. Demikian juga Amru bin Ash RA. Sejarah mencatat beliau sebagai sahabat yang berjasa besar dalam membebaskan Mesir dari cengkraman Romawi.

Berikut Sabda nabi yang bisa direnungi:

Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanam sebelum terjadi kiamat maka hendaklah dia menanamnya.” (HR. Bukhari, Ahmad) Hadits ini secara jelas menunjukkan bahwa kebaikan dilakukan tidaklah mengenal usia. Selagi sempat, maka teruslah berbuat, walau sebentarlagi kiamat. Wallahu a’lam.

Beberapa contoh di atas bisa diambil pelajaran baik bagi para pemuda maupun orang yang sudah tua. Bagi pemuda, manfaatkanlah waktu potensialmu untuk kegiatan-kegiatan yang bermanfaat seperti menuntut ilmu, menghafal al-Qur`an dan lain-lain.

Jangan sampai usia muda disia-siakan, apalagi sampai kalah dengan orang-orang  yang berusia senja. Adapun bagi yang sudah tua, tidak ada istilah terlambat. Contoh di atas adalah bukti kuat jika kebaikan tidak perlu di kaitkan dengan usia, Karena usia bukanlah menjadi halangan untuk siapapun yang ingin menebar kebaikan. (PUT)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.