Majalah Salam Indonesia

Setiap Kegelisahan diri manusia, Hanya Allah yang Dapat Meredamnya

231

SALAM-INDONESIA.com-  ADA BANYAK hal yang berpengaruh dalam hidup seseorang, ada banyak pula masalah dan kegelisahaan yang terus menghantui di setiap langkahnya. Terkadang mereka lupa cara menghadapinya, dengan lebih memilih untuk termenung berhari-hari dan tidak pernah berfikir untuk meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari hal ini.

Akibatnya seseorang akan merasa putus asa dan bersedih atas hal yang mereka buat sendiri. Hati mereka hancur karena berduka cita tapi tidak punya daya apa-apa.

Hendaknya kita berfikir, dan meneladani sikap Rasulullah Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam yang menyuruh kaumnya untuk menuju kepada Allah, surga, dan nikmat-Nya, dengan segala cara, seraya menanggung beban berat yang hanya bisa dipikul oleh para rasul bergelar Ulu’ al-‘azm. Namun, orang-orang kafir menyumbat telinga mereka dengan jari dan terus tenggelam dalam kesesatan, kekufuran, dan kebencian di hati mereka.

Mereka berpaling membelakangi, membangkang, dan menukar surga dengan neraka atas pilihan sendiri. Itulah penyebab utama kegelisahan dan kesedihan di hati Nabi Shalallaahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau menyaksikan sejumlah keluarganya jatuh ke lembah kesesatan. Beliau berdukacita karena tahu tempat mereka saat kembali nanti. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggambarkan keadaan Nabi ini dalam firman-Nya:

Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Qur’an).” (QS. al-Khaf: 6 ).

Kesedihan dan kegalauan Nabi telah sampai pada tingkat yang hampir saja beliau bunuh diri karena kalut. Oleh karena itu, Allah mengarahkannya bahwa bersedih karena persoalan ini tidak akan berguna dan tertolak. Tugas beliau sudah selesai dan tidak akan dituntut karena kondisi seperti itu.

Allah pun menjanjikan suatu ketetapan kepada kita dan kepada para nabi-Nya yang sabar dan saleh, bahwa setelah kesusahan pasti ada kemudahan. Setelah kesempitan pasti ada kelapangan dan kemudahan. Berdasarkan ketetapan itu pula Allah menutup penderitaan Ya’qub a.s. dengan akhir yang bahagia. (put)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.