Majalah Salam Indonesia

Mencari Calon Pemimpin ala Nabi

139

SALAM-INDONESIA.com – SEORANG PEMIMPIN menempati posisi terpenting dalam kehidupan bermasyarakat. Ibarat kepala pada anggota tubuh. Tidak salah jika seorang pemimpin disebut juga dengan kepala. Karena pemimpin bertugas mengepalai orang-orang yang diayominya.

Maka, selain berperan melaksanakan tugas kepemimpinan, seorang pemimpin juga berperan sebagai panutan kepada bawahannya, baik itu anggota, masyarakat, atau pun rakyatnya. Beratnya tugas pemimpin dalam mengemban amanah, menjadikan tidak setiap orang dapat menduduki posisi penuh tanggung jawab itu. Berangkat dari hal tersebut, Rasul memberikan tiga standar dalam mencari seorang yang layak untuk dijadikan sebagai pimpinan. Apa Saja standar itu ?

Pertama, “The right man on the right place” atau menempatkan orang yang tepat pada posisi yang sebenarnya tepat. Dalam praktik sistem pemerintahan modern, standar ini berlaku di negara demokrasi seperti Indonesia. Caranya bisa dengan menentukan posisi yang akan diisi terlebih dahulu, lalu memilih orang yang tepat untuk posisi tersebut. Atau menunjuk seseorang yang akan diangkat terlebih dahulu, baru kemudian diberikan tugas yang sesuai dengan keahliannya.

Seperti menempatkan TNI dan Polisi untuk urusan keamanan, atau para pakar hukum dalam keanggotaan majelis hakim dan konstitusi. Dalam mencari “orang yang tepat” ini, ada dua kriteria yang harus ada pada calon orang yang tepat, yaitu amanah dan berkompeten. Karena orang yang amanah akan menjalankan tugasnya dengan penuh ketaatan pada hukum, jauh dari lalim dan juga kesewenangan. Dan orang yang kompeten akan menyelesaikan tugasnya dengan baik, sehingga tidak ada urusan yang terbengkalai.

Standar kedua, mencari pemimpin ala Nabi yaitu tidak memberikan jabatan pada yang memintanya. Hal ini berkaitan erat dengan sikap zuhud seorang muslim. Kita dapat menemui banyak orang yang zuhud dari makanan, minuman, atau pun kekayaan. Namun jika diberikan kekuasaan, sifat manusia cenderung akan mempertahankannya, terlena, dan pamer kuasa.

Hal ini tidak mencegah siapapun yang berkompeten dalam urusan kepemimpinan dan amanah dalam menjalankannya untuk meminta dan mencalonkan diri menjadi pemimpin. Seperti yang dicontohkan oleh nabiyullah Yusuf a.s;

 “Jadikanlah aku bendaharawan Negara, sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan.” (Q.S. Yusuf:55).

Selama seseorang dapat menjaga amanah, menjalankan tugas dengan baik, dan tidak terlena dengan gelimang harta dan kekuasaan, maka permintaannya untuk urusan kepemimpinan akan bernilai ibadah dengan berkhidmah untuk umat. Standar ketiga yaitu mengkader pemuda menjadi pemimpin masa depan. Pemuda adalah unsur terpenting dalam satu masyarakat. Dan juga fase terpenting dalam kegidupan manusia. (QI)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.