Majalah Salam Indonesia

Kyai NU Tidak Mengajarkan Faham Radikal

121

SALAM-INDONESIA.com- NAHDLATUL ULAMA (NU) sebagai organisasi massa Islam dengan jumlah anggota terbesar di Indonesia memiliki komitmen kuat menjaga NKRI. 

Sehingga sangat tidak mungkin mengajarkan nilai-nilai diluar ajaran luhur agama Islam.

Bahkan Ketua Umum Pengurus Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. KH. Aqil Siroj menegaskan, seluruh kyai didikan pesantren dibawah naungan NU tidak mengajarkan apalagi menyebarkan faham-faham radikal di Indonesia.

Hal tersebut ditegaskan KH Aqil Siroj saat memberikan tausiyah pada acara Tabligh Akbar di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Desa Mertak Tombok Kecamatan Praya Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), beberapa waktu lalu.

“Saya jamin seluruh Kiyai NU tidak ada yang mengajarkan faham radikal,” ucap Aqil Siroj berulang kali.

Menurut Aqil Siroj, munculnya gerakan-gerakan radikal dan terorisme di Indonesia khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB) beberapa waktu lalu akibat pemahaman para pelaku teror tentang Islam masih kurang. Terlebih pada beberapa ayat yang menjelaskan tentang perang.

Para pelaku teror yang melakukan aksinya mengatasnamakan agama, kata Aqil Siroj, tidak memahami secara utuh ayat yang dibacanya.

“Bagaimana asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya suatu ayat Alqur’an) dari ayat itu turun, mungkin mereka belum pelajari,” kata Aqil Siroj pada acara yang dihadiri ratusan warga nahdliyin tersebut.

Dikatakannya, ada beberapa wahyu yang diturunkan saat terjadinya perang, sehingga menjadi penyemangat bagi ummat muslim menghadapi kaum kafir saat itu.

KH Aqil Siroj menjelaskan, seperti yang terjadi pada zaman perang Khandaq, saat Kota Madinah diserang kaum kafir yang dipimpin Abu Sofyan, ummat muslim masih saja ketakutan, padahal Kota Madinah saat itu sudah dikelilingi oleh parit, sehingga Allah SWT menurunkan wahyu yang menerangkan tentang mati syahid.

“Kalau ayat ini digunakan pada sembarang tempat dan keadaan, tentu tidak cocok. Terlebih di NTB, kondisi daerah yang sangat aman, sehingga tidak perlu ada aksi teror. Toh juga yang diserang adalah bangunan tempat ibadah dan fasilitas milik negara seperti Kantor Polsek,” kata Aqil Siroj memisalkan kejadian teror Bima beberapa waktu lalu.

Karena itu, mengakhiri tausiyahnya, KH Aqil Siroj mengajak seluruh masyarakat agar melawan teroris dan membuang jauh-jauh faham radikal.

“Tidak pantas ada gerakan-gerakan radikal di NTB ini. Karena saya tahu daerahnya aman, penduduknya kuat iman, dan pemimpinnya dari kalangan ulama. Jadi, tidak ada alasan untuk melakukan gerakan radikal,” tandas Aqil Siroj. (**)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.