Majalah Salam Indonesia

Keseimbangan dalam ibadah, seperti apakah itu ?

540

SALAM-INDONESIA.com – BAGI ORANG yang beriman dapat merasakan bagaimana manisnya iman. Rasa yang tidak bisa disentuh oleh panca indra, akan tetapi hanya bisa dinikmati oleh hati dengan keyakinan. Karena hati adalah pusat indera bagi iman seseorang. Ketika hati telah yakin maka hilang lah segala bentuk keraguan hingga tiada bertempat di dalamnya. Allah pun membimbing setiap langkahnya, memperbaiki segala amalnya, dikarunia keindahan marifat padaNya, dan dia hidup dalam naungan dan pengawasan Pencipta.

Agar seorang hamba dapat terus merasakan manisnya iman dia harus menjaga satu hal yang sangat penting, yaitu “wasatiyah fil ibadah” atau keseimbangan dalam menjalankan ibadah. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam surat Albaqarah : 142 bahwa umat nabi Muhammad adalah umat pertengahan, umat yang adil dan tidak berat sebelah.

Diantara keseimbangan dalam beribadah yang merupakan manhaj nubuwah adalah perintah untuk melaksanakan ibadah secara sempurna namun tidak memberatkan mukallaf dengan adanya (taisir) kemudahan dan (rukhsakh) keringanan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dikisahkan ada tiga orang datang ke rumah istri Nabi saw. mempertanyakan tentang ibadah Nabi saw.

Setelah diberitahu, mereka menganggap seakan-akan amal ibadah Nabi itu hanya sedikit dan mereka berkata: “Dimanakah tempat kami dibanding Nabi saw. padahal beliau telah diampuni semua dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang?” salah seorang di antara mereka berkata:

“Saya selamanya shalat sepanjang malam.” Yang lain berkata: “Saya selamanya berpuasa.” Yang lain lagi berkata: “Saya akan menjauhkan diri dari perempuan dan tidak akan kawin selama-lamanya.” Kemudian Rasulullah saw. datang dan bersabda kepada mereka: “Kalian tadi berbicara begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku tidur malam, aku juga mengawini perempuan. (Itulah sunah-sunahku) siapa saja yang benci terhadap sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.”

Al-Quran juga mempertegas manhaj umat pertengahan agar tidak berlebihan dalam beribadah dengan berinfak tanpa melampaui batas kemampuan. Bahkan Allah memuji mereka yang menginfakkan hartanya tanpa berlebihan dan tidak juga kikir dengan pujian hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih seperti dalam Q.S Al-Furqan : 67. Sehingga umat termotivasi untuk terus berinfak dijalanNya namun juga tidak berlebihan yang dapat memberatkan diri.

Terakhir, tidak hanya dalam ibadah ritual dan sosial yang mendapatkan perhatian agar seimbang dalam pelaksanaannya, tapi juga dalam hal keseharian seperti makan. Nabi mengajarkan kita agar sederhana dan tidak berlebihan. Dengan makan secukupnya yang dapat menegakkan tulang punggung, atau membagi perut menjadi tiga bagian, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernafas. (QI)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.