Majalah Salam Indonesia

Halimah Yacob, Presiden Wanita Pertama Singapura

58

SALAM-INDONESIA.com – DALAM BEBERAPA MINGGU KE DEPAN, nama Halimah Yacob menjadi perbincangan hangat masyarakat di Asia Tenggara. Pasalnya, wanita berusia 63 tahun ini terpilih menjadi Presiden Singapura ke-delapan menggantikan Presiden Tony Tan.

Kemenangan Halimah dipastikan setelah dia menjadi satu-satunya bakal calon presiden yang diloloskan oleh Komite Pemilihan Presiden, seperti dilaporkan The Straits Times. Senin (11/9/2017).

Sementara dua bakal calon lainnya yakni pengusaha Farid Khan dan Salleh Marican gagal memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk menjadi calon resmi. Dengan menjadi satu-satunya bakal capres yang dapat berlaga, maka dipastikan Halimah menang dengan walkover di hari nominasi yang akan digelar hari ini, pada Rabu (13/9/2017).

Pilpres Singapura yang dijadwalkan akan digelar pada Sabtu (23/9/2017) dengannya tidak perlu diselenggarakan lagi karena hanya ada satu calon yakni Halimah Yacob.

Sebagai catatan, untuk menjadi capres di Singapura tidaklah mudah. Ada segudang kriteria yang sangat ketat yang harus dipenuhi.

Untuk pejabat publik seperti Halimah harus memenuhi syarat salah satunya ialah telah menjabat di sejumlah posisi penting politik selama sekurang-kurangnya 3 tahun. Halimah sendiri telah menjabat sebagai Ketua DPR Singapura selama 4 tahun dari 2013 sampai 2017.

Sedangkan untuk bakal calon dari kalangan swasta harus memiliki shareholders equity sekurang-kurangnya 500 juta dollar Singapura.

Inilah syarat yang gagal dipenuhi Farid dan Salleh karena shareholders equity perusahaan yang mereka pimpin tidak mencapai angka yang disyaratkan.

Halimah mendeklarasikan kemenangannya dan berterimakasih terhadap dukungan warga Singapura yang luar biasa sejak dia memutuskan mencalonkan diri bulan lalu.

Proses pemilihan presiden Singapura kali ini menimbulkan reaksi beragam dari para pengamat yang menyambut Halimah sebagai sejarah dengan menjadi presiden wanita pertama negara tersebut dan kepala negara Melayu pertama dalam 47 tahun terakhir.

“Madam Halimah adalah minoritas ganda, tidak hanya individu Melayu-Muslim, tapi juga perempuan,” ujar Wakil Direktur Institut Studi Kebijakan Gillian Koh.

Namun Koh menambahkan, “Penerimaan keragaman kita pasti akan lebih hebat lagi jika ada kontes terbuka,” katanya

Sementara itu, Profesor ilmu politik Bilveer Singh dari National University of Singapore mengatakan, “Dipilih melalui jalan pintas tidak melemahkan atau mendelegitimasi pemenangnya,” imbuhnya.

Hingga kini, pemerintah Singapura belum mengungkapkan apakah tetap menggelar pemilu dengan calon tunggal melawan kotak kosong, atau langsung menobatkan Halimah sebagai Presiden Singapura baru. (**)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.