Majalah Salam Indonesia

Ekonomi Syariah Libatkan Masyarakat Gerakan Ekonomi

140

SALAM-INDONESIA.com – INDONESIA SHARIAH ECONOMIC FESTIVAL (ISEF) 2017 yang digelar di Grand City Convex, Surabaya, mulai Kamis-Sabtu ((9-/11/11) beberapa waktu lalu, telah melahirkan banyak ide, usulan serta kebijakan dalam upaya mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia.

Bahkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengungkapkan, bahwa ekonomi dan keuangan syariah bukan suatu konsep eksklusif yang hanya ditujukan kepada umat Islam, melainkan konsep inklusif yang secara aktif melibatkan seluruh lapisan masyarakat dalam menggerakkan roda perekonomian.

Konsep tersebut mendorong pesatnya perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di dunia dan Indonesia. Hal itu tampak dari volume industri keuangan syariah global pada 2015 yang mencapai 3,8 triliun dolar AS, dan diperkirakan meningkat menjadi 6,3 triliun dolar AS pada 2021.

“Pertumbuhan ini memicu berbagai negara di dunia untuk berlomba-lomba memanfaatkan peluang dan berupaya menjadi pemain utama di industri halal global. Tidak hanya negara yang mayoritas penduduknya Muslim, tapi negara-negara lain, seperti Inggris, Jepang, Cina, Korea, dan Thailand” ungkap Agus Martowardojo.

Indonesia sebagai negara mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia dianggap memiliki potensi besar industri halal global, tetapi sampai saat ini masih belum termanfaatkan dengan baik. Indonesia masih menjadi importir produk industri makanan halal, wisata halal, dan busana halal.

Padahal Indonesia, menurut dia, harus mampu melakukan ‘swasembada’ produk halal. Hal itu karena kalau hanya melakukan impor bisa memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan neraca pembayaran Indonesia sehingga akan mengancam kemandirian dan ketahanan perekonomian nasional.

Karena itu, menurutnya, potensi industri halal yang besar perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kemanjuan ekonomi Indonesia. Agus juga menilai perlunya akselerasi ekonomi dan keuangan syariah dengan mengoptimalkan dan mengintegrasikan potensi yang dimiliki. Termasuk integrasi sektor keuangan komersial syariah dan sektor sosial syariah, seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

Penyelenggaraan ISEF, kata Agus, untuk meningkatkan pemahaman dan keterlibatan berbagai segmen masyarakat terhadap ekonomi dan keuangan syariah. Selama empat kali penyelenggaraan ISEF, secara bertahap telah memfasilitasi terbentuknya landasan yang kokoh bagi terbentuknya peran ekonomi dan keuangan syariah dari tahun ke tahun.

Dalam tiga kali perhelatan ISEF, capaian penting yang dilakukan Indonesia, antara lain, terbentuknya forum ilmiah domestik dan global, diterimanya Zakat Core Principles sebagai acuan internasional, dimulainya penyusunan Waqf Core Principles sebagai inisiatif lintas negara yang dimotori

Indonesia, adanya paradigma baru intergais keuangan, serta terbentuknya Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS).

“ISEF 2017 dengan tema mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif yang lebih berdaya tahan melalui koordinasi yang lebih erat. ISEF diupayakan dapat menjangkau keterlibatan masyarakat lebih luas untuk membangkitkan potensi lebih besar” pungkas Agus. (**)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.