Majalah Salam Indonesia

Dr Aam Aminuddin, M,si;   Ustadz Muda Nan Gaul

16

SALAM-INDONESIA.com – BAGI WARGA Bandung, Jawa Barat, sosok Aam Aminuddin, begitu familiar. Ustazd muda ini sangat piawai dalam membawakan materi dakwah. Karena itulah, ayah tiga anak lulusan International Islamic Educational Institute, Arab Saudi ini kerap menjadi narasumber di banyak media.

Biasa dirinya dipanggil Ustadz Aam  lahir di Bandung, Jawa Barat, 14 Agustus 1965;. Anak pertama dari dua belas bersaudara pasangan Nurdin (alm) dan Ibu Siti Asiah ini, banyak menghabiskan masa kecilnya di Bandung. Ustadz Aam, dikenal sebagai pribadi yang sederhana, santun dan lemah lembut.

Tahun 1986,  Aam mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Saudi Arabia untuk menekuni bidang Islamic Studies di International Islamic Educational Institute. Karenanya, ia hanya sempat mengenyam kuliah di UI selama dua semester dan IKIP Jakarta empat semester. Yudisium Cum Laude program S1 bidang Islamic Studies dapat ia selesaikan dalam tempo tiga setengah tahun.

Tahun 1991-1995, ia menekuni bidang ilmu Public Relations di Fakultas Ilmu Komunikasi Unisba. Mei 2004, Menamatkan program Magister Sains (M.Si) Bidang Kajian Utama Ilmu Komunikasi di Program Pasca Sarjana Universitas Padjajaran, bidang kajian utama Ilmu Komunikasi. Agustus 2004, namanya tercatat kembali sebagai “santri” program Doktor (S3) Konsentrasi Ilmu Komunikasi di Universitas yang sama.

Direktur Media Percikan Iman ini, selain aktif sebagai dosen di Program Pasca Sarjana (S2) Universitas Islam Bandung, juga menjadi narasumber di acara “Catatan Sergap” di Hikmah Fajar RCTI, seminar, talk show, dan berbagai diskusi.

 

Mendukung Majelis Taklim  

Sementara salah satu pengajian di Bandung yang rutin dikunjungi dimana ia menjadi narasumber adalah pengajian Majelis Taklim   Hegarmanah yang diketuai  ustadzah Hj. Fatimah.

“Saya menganggap ibu Fatimah sudah sebagai ibu sendiri. Ketika putra putri ibu Fatimah masih remaja, saya sudah tausiyah  di M3 B (muda-mudi muslim Bandung) yang di asuh oleh Ibu Fatimah.

Berawal dari situlah lalu ada pengajian Majelis Taklim dan saya ikut mengisi materi, dan dimana ada ibu Hj. Fatimah mengisi tausiyah,  disitu ada saya,” kenangnya.

Dengan nada merendah, Aam mengatakan bahwa dirinya di besarkan oleh Hj. Fatimah dan  ia menganggap sudah sebagai ibu sendiri.  Dari sinilah ia merasa ada kecocokan dengan Hj. Fatimah dalam ikut mensyiarkan Islam.  Dari proses pengajian di Majelis Taklim Hegarmanah itulah kerjasama terus berlanjut.

Tidak hanya itu, keberadaan Majelis Taklim Hegarmanah juga terus berkembang  dan kian banyak dikunjungi warga Bandung.  Apalagi jika saat pesantren kilat di bulan Ramadhan, ribuan jamaah yang datang.

“ Biasanya banyak pengajian dilakukan di masjid, tapi ini dilakukan di rumah.  Rumah menjadi tempat pengajian itu luar biasa. Selain itu jamaah yang datang juga beragam, ada dari Muhammadiyah, Persis dan NU,” ungkapnya.  (**)

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.