Majalah Salam Indonesia

Amanah itu Berat dan Mahal

115

SALAM-INDONESIA.com – SUATU KETIKA NUH BIN MARYAM, seorang penguasa dan hakim di wilayah Maru, turkmenistan, hendak menikahkan putrinya yang cantik, cerdas, dan anggun. Maka berdatanganlah para pembesar dan putra-pytra bangsawan melamarnya dengan menawarkan mas kawin yang banyak dan bernilai ahal, namun sang putri terlihat enggan menerima pinangan-pinangan itu.

Hal itu tentu membuat sang Ayah bingung, dan ia pun tak mau memilihkan calon untuk putrinya, karena khawatir akan mengecewakan yang lainnya.

Hingga suatu ketika Nuh bin Maryamm berjalan-jalan di kebun anggur kerajaan, yang sejak 2 bulan lalu dijaga oleh Mubarok, seorang budak dari india.

Nuh berkata; “Hai Mubarok, ambilkan aku setangkai anggur” Lalu mubarok memberikan anggur sesuai permintaannya, tapi ketika dimakan rasanya masam. Nuh lalu meminta dipetikkan lagi, ternyata kembali dapat yang masam.

Nuh bertanya; “Subhanallah, sudah 2 bulan kamu tinggal di kebun ini, tapi belum bisa membedakan mana anggur yang manis atau asam”

Mubarok menjawab; “… Hamba belum pernah merasakannya tuan, jadi belum bisa membedakannya.” “Kenapa kau tidak mencobanya” tanya Nuh

Mubarok menjawab; “Karena tuan hanya menyuruh hamba mengurusnya, dan tidak menyuruh hamba untuk memakannya, maka hamba tidak berani berkhianat”

Rupanya Mubarok bukan sekedar seorang budak, namun seorang yang ahli ibadah dan taat pada Allah.

Singkat cerita, Nuh akhirnya menjodohkan Mubarok dengan putrinya, ia betul-betul terpesona dengan akhlak Mubarak, ia meninggalkan seluruh pangeran yang berusaha untuk meminang putriya. Dan sesuai kehendak Allah putri Nuh pun menerima budak ini sebagai suaminya dengan penuh cinta dan pegabdiannya. Yang kemudian dari mereka lahirlah Abdullah bin Mubarok, seorang ulama besar dikalangan Tabiin saat itu.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.