Majalah Salam Indonesia

Al-Haytham, Ilmuwan yang Mengembangkan Teori Optik

28

SALAM-INDONESIA.com – TEORI OPTIK pertama kali dikemukakan ilmuwan asal Irak melalui  kitabnya ‘Al Manadhir’. Hingga 500 tahun kemudian, teori Al Haytham ini banyak dikutip ilmuwan-ilmuwan Eropa dan dikembangkan hingga saa ini.

Sebelum Isaac Newton mengembangkan teori lensa, sinar dan bentuk prisma yang menjadi dasar bagi teori modern optik pada abad ke-17, adalah ilmuwan muslim Al-Haytham (965-1039) di abad 10 yang telah lebih dulu mengembangkan teori optik.

Pada masanya tadi, karya Al Haytham mengenai optik banyak dikutip dan menjadi dasar penelitian ilmuwan Eropa. Bahkan selama abad ke-16 sampai 17 Newton dan Galileo mengombinasikan teori Al Haytham dengan temuan mereka.

Dengan runtutan sejarah tadi, tidak menutup kemungkinan teori Newton dipengaruhi oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan Al-Haytham. Nama Ibnu Al-Haytam atau di barat dikenal dengan nama Alhazen, menjadi rujukan dalam bidang ilmu optik melalui karya ilmiahnya Al Manadhir atau Kitab Optik.

Di buku inilah, ia menjelaskan secara gamblang beragam fenomena cahaya, termasuk sistem pengelihatan manusia. Selama lebih dari 500 tahun, Kitab Al Madahir terus bertahan sebagai buku paling penting dalam ilmu optik. Di tahun 1572, karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan judul Opticae Thesaurus.

Bab tiga volume pertama buku ini mengupas ide-ide dia tentang cahaya. Dalam buku itu, Haytham meyakini bahwa sinar cahaya keluar dari garis lurus dari setiap titik di permukaan yang bercahaya. Ia lalu membuat percobaan yang sangat teliti tentang lintasan cahaya melalui berbagai media dan menemukan teori tentang pembiasan cahaya. Ia jugalah yang melakukan eksperimen pertama tentang penyebaran cahaya terhadap berbagai warna.

Salah satu karyanya yang paling menomental adalah ketika Haytham bersama muridnya, Kamal ad-Din, untuk pertama kali meneliti dan merekam fenomena kamera obsecura.

Inilah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia.  Haytham juga membuat buku tentang kosmologi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Yahudi di abad pertengahan.

Karya lainnya adalah buku tentang evolusi, yang  hingga kini masih menjadi perhatian ilmuwan dunia. Sayangnya, dari sekian banyak karya bukunya yang diperkirakan  berjumlah 200 lebih, hanya sedikit yang terisa. Bahkan karya  monumentalnya, Kitab Al Manadhir, tidak diketahui lagi rimbanya. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam  bahasa Latin. (**)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.